Beberapa pelajaran dalam satu perjalanan wisata ke Wonosari

Hari sabtu empat orang yang pekerjaannya adalah sebagai programmer yaitu S,C,G,dan A merencanakan pergi ke wonosari yang terkenal akan keindahan pantainya. Saya beri bocoran saja kalau inisial A itu nama aslinya adalah Agung Puji Mustofa a.k.a sang pemilik blog ini. Sesuai kesepakatan berangkat jam setengah 4 sore dan menginap di pantai.
Sebelum berangkat saya mempersiapkan keperluan minimal untuk keperluan wisata ini. 1 Set pakain ganti, roti cukup untuk sekali makan, Aqua ukuran 1,5 liter, kaca kecil dan sisir, sikat dan pasta gigi. Yang belum saya punya adalah sleeping bag, oleh karena itu saya berangkat menuju salah satu toko tas di daerah Malioboro yang kira-kira memiliki stok sleeping bag.
Kesombongan Tukang Parkir

Tukang parkir - Cerita Baron - Kukup - Krakal - SUndak - Wediombo
Kejelekan dari kota Yogyakarta adalah terlalu banyaknya tukang parkir yang bisa dikatakan liar sehingga bagi anda-anda yang menggunakan motor biasanya harus siap-siap untuk membayar lebih bahkan untuk sekedar makan di warung pinggir jalan sekalipun. Yang aneh menurut saya adalah kebanyakan tukang parkir tersebut agak “alergi” dengan yang namanya sepeda sehingga setiap sepeda yang terparkir selalu terpinggirkan. Seperti yang sering saya alami, meskipun sudah membayar uang parkir dibeberapa tempat (di malioboro biasanya mbayar meskipun sepeda) tetap saja sepeda kita ditempatkan tidak pada tempatnya alias di pinggirkan seenaknya diluar tempat parkir. Bahkan untuk sebuah toko buku besar sekalipun sepeda saya ditaruh diluar parkir padahal tetep saja disuruh membayar.
Tapi sabtu itu sang tukang parkir keterlaluan. Hanya karena saya memakai sepeda (sepeda gunung sih), mereka nggak mau saya parkir ditempat mereka (padahal parkirpun mbayar juga). Saya parkir ditempat tukang parkir X katanya disuruh disebelahnya, Eh saya parkir disebelahnya ternyata “penguasa” nya sudah berganti dan sekali lagi saya diusir dengan perkataan “mas hanya boleh motor mas sepeda nggak boleh”. Kesel sekali saya dalam hati ngomel “sok banget nih tukang parkir, kayak gajinya dia lebih gede dari saya aja”. Akhirnya justru sepeda saya saya parkir aja sembarang di depan toko tas, nggak ada yang jaga (di tempat parkirpun sebenarnya nggak dijaga juga kok lawong hilang nggak diganti) dan gratis.
Kenapa fenomena ini terjadi ?

Konsumerisme - Perjalanan ke pantai Baron - Kukup - Krakal - wedi ombo
Entahlah, menurut saya pribadi ada hubungannya dengan pola pikir manusia lebih khususnya Indonesia. Menurut saya manusia indonesia banyak yang terkenal penyakit yang diberi nama “konsumerisme”, yaitu membeli barang-barang yang sebenarnya kalau dipikir-pikir juga belum begitu diperlukan tapi begitu relanya membeli barang tersebut dengan kredit sekalipun yang artinya tiap bulan ada tambahan beban untuk membayar barang tersebut. Saat memakai sepeda sepertinya saya dikategorikan sebagai orang “miskin” yang bahkan si tukang parkirpun bisa membeli sepeda motor sedangkan saya hanya memakai sepeda (meskipun sepeda gunung). Pertanyaannya apakah sepeda motor yang dimiliki tukang parkir itu kredit atau bukan ? sejauh yang saya ketahui biasanya kita akan membeli kredit (saya paling males kalau beli kredit kecuali terpaksa, kalau ada uang ya beli kalau nggak ada dan tidak begitu perlu yang belinya nanti-nanti saja). Artinya si tukang parkir adalah orang yang punya motor tapi punya hutang sedangkan saya cuma naik sepeda tapi nggak punya hutang. Ini cuma contoh dan belum tentu tukang parkir itu punya motor dan belum tentu juga dia kredit motor.
Ada sebuah fenomena lucu di daerah kelahiran saya. Orang tua saya hanya memiliki dua buah sepeda dan sama sekali tidak memiliki motor. Beberapa tetangga rumah kalau dibandingkan dari luar jelas rumah orang tua kalah jauh bagusnya plus paling tidak pasti memiliki satu motor bahkan lebih. Kalau dilihat dari luar pasti terpikir bahwa orang tua saya tidak lebih kaya dari para tetangga itu. Anehnya justru para tetanggalah yang lebih sering meminta bantuan keuangan kepada orang tua saya dan bukan sebaliknya. Bayangkan saja motor aja tidak punya, rumah nggak ada keramiknya sekarang, punya dua sepedapun dah umur bertahun-tahun, sedang para tetangga itu minimal tekel (keramik yang jelek), minimal motor ada satu.
Usut punya usut ternyata “beban” pengeluaran mereka sering melebihi jumlah pemasukan sehingga harus sering tambal sulam untuk memenuhi kebutuhan dan “konsumerisme” adalah biang dari segala kekacauan. Bayangkan saja demi membeli sepeda motor rela mengajukan kredit meskipun tahu nanti bakal tambah beban perbulan dan cilakanya sepeda motor yang dibelipun sebenarnya tidak begitu berguna. Lawong biasanya pergi juga jarak paling sekilo atau dua kilometer aja. Biasa ke sawah naik sepeda, karena ada motor ganti naik motor, bisa ke pasar naik sepeda karena ada motor naik motor. Selain lebih cepat sampe dan kelihatan derajat hidupnya naik sepertinya tidak ada kegunaan lain dari motor tersebut padahal beban “hidup” motor kredit terbilang cukup berat. Paling-paling dalam setahun cuma pergi jauh beberapa kali.
Nyumbang gempa atau sumbangan gempa mbak ?

Tobatlah - Perjalanan ke pantai Baron - Kukup - Krakal - Wedi Ombo
Pas lagi duduk-duduk menunggu programmer berinisial C dan G saya melihat ada sebuah mobil warna hitam dilihat dari designnya tergolong mobil yang bagus dan berhenti didekat tempat duduk saya. Beberapa gadis “cantik” dengan pakaian atas di dominasi warna hitam keluar dari mobil tersebut sambil membawa kotak sumbangan untuk gempa (seperti kardus yang biasa dipakai pengemis kalau minta sumbangan cuma kali ini tulisannya sumbangan gempa).
Yang aneh adalah gadis-gadis cantik ini mengenakan pakaian atas yang turun sampai paha agak ke atas jauh diatas lutut dan celana bawahnya super ketat sehingga cuma kelihatan sedikit dibawah bajunya bahkan kadang tidak kelihatan (cuma kelihatan bajunya aja nutupin paha atasnya dikit). Dipikiran saya ini sedang nggoda orang lewat atau mau minta sumbangan sih ?. Kalau kayak gini sih cuma nyumbang beberapa ribu rupiah untuk korban gempa tapi malah bikin resiko terjadi gempa tambah dahsyat. Moga aja mbak-mbaknya mau tobat kembali ke jalan yang benar.
Ada apa dengan pak Polisi ?

Kena Tilang - Dalam perjalanan ke Wonosari
Memang lagi musibah, baru berangkat beberapa menit saja sudah ada “cegatan” polisi menanti para pengendara motor yang “lupa” membawa SIM dan STNK nya. Dan celakanya ternyata salah satu oknum programmer berinisial C tidak memiliki SIM. Mau nggak mau harus bayar langsung “ditempat” agar kita bisa jalan terus.
Masalahnya bukan cuma disitu, kebetulan saya yang lagi bawa kamera coba abadikan momen ini agar bisa ditulis di blog. Eh ternyata pak polisinya datangi saya nanya apakah sudah ada ijin foto atau belum. Buset dah wong foto dijalan umum aja kok pake ijin segala. Mungkin saya dikira wartawan kali yang ingin mengexpose kejadian tilang tersebut dikoran-koran sehingga membuat pak polisi agak kegerahan. Tapi kayaknya sih lagi ada obsesi jadi artis, jadi kalau foto harus ijin terlebih dahulu. Daripada ribet sama polisi akhirnya saya hapus fotonya. Sayangnya aku cuma bawa satu kartu memori jadi nggak bisa recover file soalnya setelah itu saya pakai untuk foto-foto pantai. Kalau punya dua memori khan bisa saya recovery tuh foto yang saya hapus.
Beda jenius sama gila itu apa sih ?

Apakah Saya Jenius ?
Kasus bertambah lagi, jam keberangkatan yang seharusnya jam setengah empat sore agar pas matahari terbenam kita sudah sampai dipantai ternyata jam setengah lima sore baru berangkat dan lebih parah lagi ada aksi saling menyesatkan antara dua kubu. Di satu pihak saya dan S dan dilain pihak C dan G.
Tindakan saling menyesatkan ini diawali dengan adanya perbedaan kecepatan laju motor S yang notabene membonceng saya dan C yang membonceng G sehingga dua kubu ini terpisah. Karena semua berpikir S dan saya yang didepan maka ketika sampai pertigaan ke kota wonosari dan saya dan S belum melihat C dan G datang maka kita berinisiatif berhenti dulu sambil menunggu. Setelah lama menunggu, HP S berbunyi tanda panggilan. Dari G nanyain jalan, kemudian saya suruh tanya dah lihat papan arah di pertigaan wonosari nggak ? kalau blom lurus aja. Akhirnya merekapun lurus. Celakanya ternyata motor C dan G sudah berada didepan motor saya dan S yang artinya sebenarnya mereka sudah melewati pertigaan itu dan bukannya di jalan yang benar mereka justru tersesat menjauh. Setelah kontak-kontakan berkali-kali akhirnya kita bisa kembali ke jalan yang benar meskipun harus muter balik dulu. Baru sampai Wonosari aja dah jam setengah 6 lebih.
Akhirnya kita bareng-bareng lagi melanjutkan ke pantai dan sampai di pantai kukup jam 7 malam. Dan akhirnya hanya sebuah sepi yang ditemukan. Mau nginep disini jadi ngeri juga kalau terlalu sepi akhirnya diputuskan menginap di pantai Baron saja yang biasanya agak ramai. Dalam perjalanan oknum S bilang kalau kejeniusan dan gila itu bedanya tipis. Saya balik tanya “menurutmu kalau ada 4 orang pergi ke pantai tapi datangya malam-malam saat lainnya justru balik itu gila atau jenius ?“.
Saat ini, tempat tinggal kami adalah masjid
Sampai disana kita istirahat dan sholat kemuddian melakukan pertemuan penting untuk membahas dimana akan tinggal untuk malam minggu ini. Da akhirnya rapat besar ini menghasilkan keputusan bahwa kita akan tidur di masjid saja. Sebelum kita tidur kita jalan-jalan dulu ke pantai Baron meskipun hari sudah gelap. Setelah puas kita siap-siap tidur. Sudah jelas sleeping bag digelar agar saya tetap hangat.
Perjalanan panjang itu dimulai setelah subuh
Setelah sholat subuh kami memulai ekspedisi dari pantai baron naik ke arah bukit sebelah kiri melewati tangga. Karena masih pagi belum ada orang yang narik iuran 1000 rupiah melewati tangga alias gratis. Tujuan expedisi adalah pantai kukup dan dua pantai kecil yang tersembunyi.
Yang jarang dikunjungi yang lebih indah
Kali ini saya yang pegang kendali karena pengetahuan saya mengenai jalur bukit ini yang paling memadai sehingga kita tidak tersesat nantinya. Tujuan pertama jelas mengunjungi dua pantai yang tersembunyi tapi keindahan kukup pun masih kalah dibanding dua pantai ini. Setelah puas didua pantai ini perjalanan dilanjutkan ke kukup. Pantai kukup ini paling bagus kalau dilihat dari atas (ada semacam tempat istirahat diatas panta kukup yang berada diatas batu besar dimana untuk sampai kesana akan melewati jembatan kecil).
Ke Krakal ? kami cuma lewat dan foto-foto aja
Setelah puas di kukup kita memutuskan kembali ke Baron dulu makan-makan (ikan kakap bakar) kemudian melanjutkan ke pantai krakal dengan menggunakan motor. Kali ini pemegang kendali saya serangkan ke oknum S karena dia tahu letak pantai terindah di Wonosari. Sampai krakal kita cuma berhenti sebentar sekedar foto-foto karena keindahan pantai krakal masih kalau jauh dibanding yang akan kami tuju.
Pantai Bali ? ah itu mah nggak ada apa-apanya
Begitulah kira-kira ungkapan yang pantas untuk pantai ini (hayo tebak nama pantainya). Tidak seperti pantai-pantai Wonosari lainnya yang cenderung berombak besar di pantai ini terdapat batu karang yang menahan ombak sehingga pantai ini seolah merupakan laguna yang memiliki air yang tenang. Sudah jernih, daerah karang dan airnya tenang, maka mandi di pantai ini bisa dianggap aman (nggak bakal ada ombak besar sampai panti karena sudah ditahan karang pembatas). Cuma sayangnya saya lupa bawa kacamata renang saya. Jadi saya tidak berenang hiks-hiks.
Kok pasir sih namanya ?
Setelah puas, perjalanan dilanjutkan ke pantai Wedi Ombo. Ternyata pantai ini jauh sekali jaraknya dari pantai krakal dan sekitarnya. Sampai disini kita jalan-jalan ke batu yang agak ke tengah dan foto-foto disana. Di pantai ini banyak sekali kelumang (bahasa Nganjuk bekingking) dan ikan hias banyak berkeliaran di batu karang. Cuma saya herannya kok nama pantainya wedi ombo ya ? padahal kalau saya lihat pantainya aja isinya batu karang semua ?
Akhirnya kembali pulang
Karena dah traveling kesana kemari dah sudah lelah plus waktu sudah siang kita memutuskan untuk pulang. Dan celakanya lagi ternyata ada lagi cegatan polisi di jalan pulang ini dan alhasil Oknum C harus membayar “uang ditempat” lagi kepada pak Polisi.
foto2nya bisa lihat di album facebook saya









pemimpine sopo pas touring wingi ?
bermalam neng pantai ki enak e sekalian di pinggi pantai, beralaskan pasir.
trus nek soko krakal, ngetan sitik tekan pantai siung luwih apik iki pantai ne, tapi mbayar tpr lagi nek arep neng pantai siung.
kepemimpinane bersifat kolektif collegial, dadi ra mung satu orang he he he
Jadi ingat sama kampung halaman yang jauh disana. Inilah resiko jadi seorang anak perantauan… Salam kenal buat semuanya dari Blogger Borneo…
weehhh, pengennnnnnn…
podo em, aku biyen yo tau diusir karo satpam Delta Plasa Surabaya gara-gara aku nggawe sepeda!
padahal aku lo nggowo duwik… hohoho.. tegone…
wocoen nang kene…
http://dzofar.com/2007/11/14/delta-plaza-yang-kurang-ajar/
@ashrof, kalau ajak aku nanti aku kasih tahu tempatnya dengan syarat bisaya perjalanan termasuk konsumsi ditanggung he he
@dzofar, kita senasib, umpomo nggawe sepeda sing regane 15 juta kae kiro2 tetep diusir ra yo ?
jadi inget memori kelas 2 sma dulu, 3 hari 3 malam: Sundak-Baron… memang pantai yg msh tersembunyi lebih indah drpd kukup n baron..
Mas Agung, ada-ada aja nih pengalamannya, jadi belum punya motor nih ceritanya. masak sih ngak punya, bukankah sudah kerja ? Lagian kenapa juga jalan-jalan dengan bekal sedikit? Zaman sekarang wisata yg deket aja sudah mas Agung mesti jadi BADUT alias Banyak Duit. sebelum kita lahir materialisme sudah mengglobal lho… saya sih kalau lagi krisis uang saya nggak mau wisata. Sayang duitnya.
@noname, beneran kok saya nggak punya motor he he. ini lagi mau belajar naik motor dari dulu masih males2an aja. insyallah ini mau belajar kalau dah mending naik motornya nanti baru beli.
dan juga kebiasaan saya kalau pergi2 selalu mengusahakan bawa sedikit bekal untuk urusan bawaan, paling yang roti sama air, pakaian ganti dll. dan lainnya saya serahkan pada uang dan ATM untuk bekerja (beli dijalan maksudnya) daripada berat2in bawaan
sepengalamanku itu wisata nggak perlu banyak duit juga kok. kemarin aja aku cuma habis paling ya 50 ribuan aja dah libur ke pantai-pantai yang bagus (motor dibonceng temen soalnya he he). yang penting pinter-pinter kontrol atur uang aja lah
iya, ya, motor memang mahal tapi… yg bikin saya heran kok mas Agung baru sekarang ini belajar motor? (geleng-geleng kepala) kuliah sudah lulus, kerja sudah dapat, dagang juga sudah pernah, sudah kemana-mana pula bertualang dan punya kartu ATM segala, tapi belum bisa nyetir motor ? apa urutannya nggak terbalik ? zaman sekarang ini, urusan sukses-nggak sukses itu belakangan, yg penting dikuasai itu ialah motor motor dan motor. bahkan bocah cilik sampai mbak-mbak pun bisa (eh maaf nih mas, bukannya ngajarin cuma ngasih saran). Nanti Mas Agung tunjukin tuh sama tukang parkir, “saya juga punya motor Harleydavidson! Awas kalau diusir lagi!”
PS : nyetir motor nggak sulit kok Mas, cuma 3-7 hari latihan rutin pasti Mas langsung bisa, apalagi kalau motornya nggak pakai kopling.
cerita perjalanan yang menarik…..
salut, cara pandang anda dalam menyikapi suatu masalah….
saya akan kembali untuk membaca posting anda yang laen.
Sukses terus yha!
Leave your response!
Recent Posts
Categories
Blogroll
Tags
2 kolom blogger plugins blogger template blogger theme blogspot template blogspot theme code igniter css facebook haram fatwa ulama free stuff free tutorial golput haram html tutorial keluhan pelanggan maksiat miskin motivasi mvc Opini pengumuman php framework Prita Mulyasari programming rokok haram RS OMNI stop dreaming start action two layout web design wisata wordpress plugin wordpress template wordpress themeStatistik Blog
Most Commented