Sudah benarkah sedekah anda ?, sebuah kesalahan tentang sedekah

Akhir-akhir ini muncul sebuah fenomena dikalangan kaum muslimin yaitu sebuah gerakan untuk melakukan sedekah. Sedekah adalah suatu amalan yang sangat mulia yang diperintahkan oleh Rasulullah. Sebuah fenomena yang membuat saya kawatir adalah yaitu dorongan melakukan sedekah adalah untuk mendapatkan harta atau memperlancar karir. Bahkan sudah ada rumus matematika sedekahnya pula untuk menghitung balasan (harta) kita dari sedekah yang kita lakukan. sebuah kenyataan yang ironis. sebuah ungkapan yang sering saya dengan bersedekahlah maka anda akan kaya.
bersedekahlah karena hal tersebut adalah kebaikan yang besar
Sedekah memiliki banyak keutamaan yang sudah diterangkan melalui Al Qur’an maupun hadits yang diantaranya adalah
- menghapus dosa
“Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614) - mendapat naungan di hari akhir
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang 7 jenis manusia yang mendapat naungan di suatu, hari yang ketika itu tidak ada naungan lain selain dari Allah, yaitu hari akhir. Salah satu jenis manusia yang mendapatkannya adalah:“Seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, ia menyembunyikan amalnya itu sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari no. 1421) - memberi keberkahan pada harta
“Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim, no. 2588). Apa yang dimaksud hartanya tidak akan berkurang? Dalam Syarh Shahih Muslim, An Nawawi menjelaskan: “Para ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud disini mencakup 2 hal: Pertama, yaitu hartanya diberkahi dan dihindarkan dari bahaya. Maka pengurangan harta menjadi ‘impas’ tertutupi oleh berkah yang abstrak. Ini bisa dirasakan oleh indera dan kebiasaan. Kedua, jika secara dzatnya harta tersebut berkurang, maka pengurangan tersebut ‘impas’ tertutupi pahala yang didapat, dan pahala ini dilipatgandakan sampai berlipat-lipat banyaknya.” - Allah melipatgandakan pahala bagi orang yang bersedekah
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18) - Terdapat pintu surga yang hanya bisa dimasuki oleh orang yang bersedekah
Orang memberikan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: “Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.” (HR. Bukhari no.3666, Muslim no. 1027) - Membebaskan dari siksa kubur
“Sedekah akan memadamkan api siksaan di dalam kubur.” (HR. Thabrani, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib, 873)
Jangan bersedekah untuk berniat mendapatkan harta atau memperlancar karir
Inilah yang banyak sekali terjadi di negeri kita ini. Banyak diantara kita melakukan sedekah karena ingin menjadi kaya atau dilancarkan dalam menjalankan karirnya. Teori matematika sedekahpun dirumuskan dimana jika anda memberi maka anda akan menerima lebih banyak.
bahkan saya merasa prihatin ketika melihat ada yang menuliskan tips menjadi kaya dengan melakukan amalan berikut :
- shalat dhuha 4 rakaat (2 kali masing-masing 2 rakaat) dapat membuka pintu rizki
- meminta Allah pada saat tahajjud
- memelihara dan memberi makan anak yatim
- sedekah 10% saja dari penghasilan, karena 2.5% saja tidak cukup
- sedekah 10% dari jumlah yang diinginkan, Dengan konsep ini, jika kita ingin membeli rumah seharga Rp 100 juta, maka kita harus bersedekah sekitar Rp 10 juta terlebih dahulu.
saya hanya bisa berkata astagfirullahaladzim, semoga Allah mengampuni Saudara-Saudaraku yang telah salah jalan. Sebuah ibadah yang mulia yang tujuannya untuk mencari ridho Allah sekarang tujuannya digeser untuk menjadi kaya ?. Allah dan Rasul-Nya sudah memperingatkan hal ini sebagaimana dalam firmannya :
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud [11] : 15-16)
Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhu- menafsirkan surat Hud ayat 15-16. Beliau –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan,
“Sesungguhnya orang yang riya’, mereka hanya ingin memperoleh balasan kebaikan yang telah mereka lakukan, namun mereka minta segera dibalas di dunia.”
Ibnu Abbas juga mengatakan,
“Barangsiapa yang melakukan amalan puasa, shalat atau shalat malam namun hanya ingin mengharapkan dunia, maka balasan dari Allah: “Allah akan memberikan baginya dunia yang dia cari-cari. Namun amalannya akan sia-sia (lenyap) di akhirat nanti karena mereka hanya ingin mencari dunia. Di akhirat, mereka juga akan termasuk orang-orang yang merugi”
Perkataan yang sama dengan Ibnu ‘Abbas ini juga dikatakan oleh Mujahid, Adh Dhohak dan selainnya.
Qotadah mengatakan,
“Barangsiapa yang dunia adalah tujuannya, dunia yang selalu dia cari-cari dengan amalan sholehnya, maka Allah akan memberikan kebaikan kepadanya di dunia. Namun ketika di akhirat, dia tidak akan memperoleh kebaikan apa-apa sebagai balasan untuknya. Adapun seorang mukmin yang ikhlash dalam beribadah (yang hanya ingin mengharapkan wajah Allah), dia akan mendapatkan balasan di dunia juga dia akan mendapatkan balasan di akhirat.”
(Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, tafsir surat Hud ayat 15-16)
“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy Syuraa: 20)
Ibnu Katsir –rahimahullah- menafsirkan ayat di atas,
“Barangsiapa yang mencari keuntungan di akhirat, maka Kami akan menambahkan keuntungan itu baginya, yaitu Kami akan kuatkan, beri nikmat padanya karena tujuan akhirat yang dia harapkan. Kami pun akan menambahkan nikmat padanya dengan Kami balas setiap kebaikan dengan sepuluh kebaikan hingga 700 kali lipat hingga kelipatan yang begitu banyak sesuai dengan kehendak Allah. … Namun jika yang ingin dicapai adalah dunia dan dia tidak punya keinginan menggapai akhirat sama sekali, maka balasan akhirat tidak akan Allah beri dan dunia pun akan diberi sesuai dengan yang Allah kehendaki. Dan jika Allah kehendaki, dunia dan akhirat sekaligus tidak akan dia peroleh. Orang seperti ini hanya merasa senang dengan keinginannya saja, namun barangkali akhirat dan dunia akan lenyap seluruhnya dari dirinya.”
Ats Tsauri berkata, dari Mughiroh, dari Abul ‘Aliyah, dari Ubay bin Ka’ab -radhiyallahu ‘anhu-, beliau mengatakan,
“Umat ini diberi kabar gembira dengan kemuliaan, kedudukan, agama dan kekuatan di muka bumi. Barangsiapa dari umat ini yang melakukan amalan akhirat untuk meraih dunia, maka di akhirat dia tidak mendapatkan satu bagian pun.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya, Al Hakim dan Al Baiaqi. Al Hakim mengatakan sanadnya shahih. Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib)
Terdapat pula riwayat dalam Al Baihaqi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Umat ini diberi kabar gembira dengan kemudahan, kedudukan dan kemulian dengan agama dan kekuatan di muka bumi, juga akan diberi pertolongan. Barangsiapa yang melakukan amalan akhirat untuk mencari dunia, maka dia tidak akan memperoleh satu bagian pun di akhirat. ”
Oleh karena itu wahai Saudaraku yang sudah terlanjur bersedekah karena niat pengen kaya, ingin karirnya lancar dan juga kepentingan dunia lainnya maka luruskanlah kembali niat anda. Bersedekahlah karena ingin mendapat pahala yang besar dari Allah, agar kita dimasukkan ke Surga-Nya. Ingatlah baik-baik ayat maupun hadits diatas sudah sangat jelas ancaman bagi orang yang melakukan amal akhirat untuk tujuan dunia maka Allah akan memberikan sebagian dunia kepadanya akan tetapi dia tidak mendapatkan bagian diakhirat sedikitpun (ditempatkan di neraka)
jika ada hal yang salah dalam artikel ini silakan diingatkan dengan cara yang baik. semoga Allah mengampuni atas kesalahan baik aku mengetahui maupun tidak mengetahui









Bagus Pak Agung, tapi aku laper jadi ga bisa bikin komentar yang panjang. hehehe, yah cukup pendek dan ga mutu saja ga apa-apa ya? hehe
woo tak kandakke ustat aripin ilham lo
tapi emang sing paling penting ki niat e yo gung
Benar gung, memang seharusnya begitu. sebenarnya mungkin maksud sang ustadz untuk memberi rangsangan. tapi saat ini terlalu diblow-up media untuk kepentingan business, lalu sang ustadz mungkin terbawa arus itu secara tidak sadar. sekarang apa2 dibisniskan, bahkan ayat2 Al-Qur’an dan hadist. bisnis REG spasi sekarang menjamur dan sebagian menjadi lahan judi tak kentara.
gung.. melu o comment acarane yusuf mansur, di tpi selasa rabu jam 5 pagi. cocok ketoke
@Dealer Pulsa Elektrik,
nggak apa-apa yang penting komentar (^_^)
@akhsan
saya tak kabur dulu ya sebelum dijewer
Assalamu ‘alaikum Akhi.. Perkataan antum ada benarnya juga, tapi ana masih bingung… dan tentang perkataan Ust. Yusuf Mansur juga masuk di akal, memang soal sedekah ana masih awam..
Salam kenal,
Dedhy kasamuddin
memang kalau dilihat dari segi logika masuk akal. Akan tetapi karena kita seorang muslim maka kita lihat lagi ke ayat (dalil) yang digunakan semisal surat Al Hud maka bisa dipastikan yang dimaksud Allah adalah PAHALA YANG BESAR bukan harta kekayaan kita yang dilipat gandakan. Sedangkan mengenai harta bisa jadi Allah lipat gandakan dan bisa jadi tidak sesuai kehendak Allah.
Bagaimanapun juga tidak semua orang yang bersedekah akan bertambah hartanya. sebagian berkurang, sebagian tetap saja sebagian bertambah berkali-kali lipat.
sedangkan mengenai mengharap kelancaran rizki kita Allah dan Rasul-Nya juga sudah memberikan jalan amalan yang bisa mengantarkan kita ke sana diantaranya :
1. beristigfar dan bertobat sebagaimana firman Allah :
“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu’, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai’.” (Nuh: 10-12).
“Dan (Hud berkata), ‘Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat lebat atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa’.” (Hud:52).
2. meningkatkan taqwa kita kepada Allah sebagaimana firman-Nya (tentu saja tidak mungkin meningkatkan taqwa untuk berharap rizki, akan teteapi Allah akan memudahkan rizki kita jika kita bertaqwa kepada-Nya)
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada me-reka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendus-takan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka di-sebabkan perbuatan mereka sendiri”. (Al-A’raf: 96).
Menafsirkan firman Allah:
“Pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berbagai berkah dari langit dan bumi, Abdullah bin Abbas mengatakan: “Niscaya Kami lapangkan kebaikan (ke-kayaan) untuk mereka dan Kami mudahkan bagi mereka untuk mendapatkan dari segala arah.”
antum bisa melihat detailnya pada pembahasan ini.
http://salafiyunpad.wordpress.com/2007/09/27/kunci-kunci-rizki-menurut-al-quran-as-sunnah/
Semua amal tergantung niatnya
Yang paling enak kalo == shalat & zakat/sedekah == dan amal-amal saleh lainnya itu mengharapkan satu paket, dunianya dapet, akhirat pun dapet jadi mintanya minta ma Allah dunia dan akhirat.
Kalau minta balasan dunia doang, dikasih
Kalau minta balasan akhirat doang, dikasih
Kalau minta balasan dua2nya ( dunia akhirat ), dikasih
Kalau kalau tidak mengharapkan balasan apa2, dikasih apa ya?
dalam hal ini perlu saya luruskan. Syarat diterimanya Amal (mendapat pahala dan bukan malah siksa) itu ada dua macam :
1. Ikhlas
2. Sesuai petunjuk dari Rasulullah
dengan kaidah ini tidak boleh mengharapkan dunia dengan melakukan amalan akhirat walaupun disertai mengharap akhirat kecuali apa-apa yang Rasulullah tentukan. Tidak boleh bagi kita mengira-ngira sendiri amalan A, B, atau C boleh mengharapkan kekayaan sedangkan Rasulullah tidak mengajarkan demikian.
contoh : Sholat, saya tidak pernah menemukan dalil bahwa sholat bisa untuk melancarkan rizki. Maka artinya tidak boleh kita sholat lima waktu maupun sunnah untuk mendapatkan dunia. Sholat harus dilakukan karena ikhlas kepada Allah untuk mengharapkan pahala.
berbeda dengan silaturahmi dimana memang ada dalil bahwa silaturahmi bisa melancarkan rizki. Dalam konteks ini maka boleh bagi anda mengharap pahala sekaligus untuk melancarkan rizki (bukan cuma mengharap rizki kemudian setiap malam tidur nggak bisa nyenyak nunggu kapan rizkinya datang)
kalau kita minta dunia doang di kasih didunia tapi disiksa di akhirat.
kalau minta balasan akhirat doang insyaallah dikasih.
kalau minta balasan dua-duanya dan itu diajarkan maka insyaallah dikasih kalau tidak diajarkan oleh Rasulullah didunia dikasih di akhirat disiksa
kalau nggak minta balasan apapun, wallahualam dah nggak normal kali (^_^)
lalu bagaimana dengan janji allah di surah
[2:261] Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah166 adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.
bagaimana cara kita menggapai janji allah tersebut ??
dan bagaimana dengan hadist yg mengatakan bahwa sholat dhuha akan mendatangkan rizki !!
@gallas, sepertinya sudah jelas mengenai janji Allah kepada orang-orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah akan diberikan pahala yang berlipat bukan “HARTA”, sekali lagi “BUKAN HARTA”. Cara menggapainya ya jelas harus ikhlas karena Allah dan harta yang dinafkahkan juga halal.
Apakah orang yang bersedekah tidak mendapatkan balasan harta dari Allah ?, maka jawabannya bisa ya dan bisa tidak hal itu tergantung dari keputusan Allah dan bukan hal yang pasti “100%” kita akan mendapat harta setelah bersedekah akan tetapi pasti kalau kita ikhlas dalam bersedekah dapat pahala yang besar.
Orang yang melakukan ibadah untuk tujuan dunia (saja) pasti tidak ikhlas. Bagaimana indikasinya ? jika anda bersedekah 1 juta maka check diri anda sendiri apakah anda membayangkan kapan uang anda akan “dibalas” oleh Allah atau tidak ? jika ya maka anda tidak ikhlas, dalam kondisi pahala nggak dapat, harta mungkin Allah berikan hanya saja bukan sebagai nikmat akan tetapi sebagai musibah (di akhirat dimasukkan sebagai orang-orang yang merugi). Artinya mengenai masalah harta (rizky) itu adalah hak prerogatif Allah apakah memberikan atau tidak. Kalau rizky itu adalah hak Allah mungkinkah kita misal menghitung bahwa kalau meminta sesuatu kita harus bersedekah sekian persen ? seolah-olah sudah “pasti” bahwa sedekah kita dibalas oleh Allah dengan “HARTA”
mengenai sholat dhuha memang saya menemui hadits tentang shalat dhuha dapat mendatangkan rizky meskipun saya juga tidak mengetahui pasti kesahihannya. Sebagaimana yang saya kemukakan diatas kalau ada dalil maka ibadah itu boleh dilakukan untuk memperoleh dunia akan tetapi harus dilakukan dengan ikhlas karena Allah terlebih dahulu. Jadi kita tidak berangan-angan kemudian, saya sudah shalat dhuha sekarang kapan ya saya akan diberi “HARTA” ?, kalau seperti itu sih tujuannya jelas2 dunia dan tidak ikhlas (ingat lagi ancaman Allah mengenai orang yang beramal akhirat untuk dunia)
saya ingat betul dalam tulsian ada ustadz yang bercerita seperti ini :
suatu saat ada seorang sopir yang penghasilannya kecil kemudian datang ke ustadz tersebut meminta saran agar “KAYA” atau “MEMILIKI PENGHASILAN LEBIH DARI SEBELUMNYA”. Ustadz tersebut meminta sopir itu untuk bersedekah, akan tetapi sopir itu enggan, wong minta kekayaan lebih karena kekurangan kok malah disuruh sedekah.
Sang ustadz meminta uang 100 ribu pada sopir itu dan ustdz itu bilang sebagai jaminan “PASTI” bahwa dia akan mendapatkan “HARTA” yang lebih setelah bersedekah.
dipikiran anda apakah sopir itu ikhlas ? pastinya tidak
dan benar sopir itu mendapatkan hartanya sesuai “JAMINAN” ustadz tadi padahal sopir itu nggak ikhlas tuh. Anda melihat abu bakar, semua hartanya diinfakkan kepada Allah dan Allah tidak pernah mengembalikan hartanya hingga beliau wafat padahal Abu Bakar jelas ikhlas bukan ?
pertanyaanya jika Abu Bakar yang ikhlas tidak diberi balasan harta oleh Allah (Kalau pahala pasti dibalas) menurut anda sang sopir yang diberikan harta karena “SEDEKAH TERPAKSA” itu dirahmati oleh Allah atau justru sebagai orang yang oleh Allah disebut sebagai orang-orang yang merugi ?
setiap kita yang berakal pasti sudah mengetahui jawabanya bukan ?
Banyak tuh cerita-cerita tentang orang muslim yg miskin di zaman nabi, datang menemui nabi, bahkan ada yg di zaman Muhammad SAW, terang-terangan minta didoakan agar rezekinya berlimpah. Di dalam Asmaul-Husna sendiri ada Ya Razak Yang Maha Meberi Rizki, amalan yg khusus dibaca utk mendatangkan rizki, dengan dibarengi usaha lahiriyah tentunya.
@noname, kalau mengenai cerita saya tahu beberapa yang shahih. saya sendiri tidak melarang seorang meminta rizky kepada Allah baik itu melalui doa sendiri atau minta didoakan oleh orang lain. doa adalah suatu hal yang dianjurkan oleh Allah
masalahnya disini adalah adanya sebagian orang kita yang beramal akhirat benar-benar untuk tujuan dunia, jadi ketika tujuan dunia tidak tercapai mereka ada rasa “tidak ikhlas” dengan apa yang dilakukan seperti yang saya sebutkan. bahkan justru muncul fenomena sedekah hingga ada matematikanya itu. 1 diganti 10, padahal ini khan tidak mesti, bayangkan kalau ada orang sedekah 100 ribu dia ingin dapat 1 juta ?. bagaimana kalau nggak dapat ?, dari cerita2 yang saya dengan dari kesaksian mereka ternyata banyak yang nggak ikhlas lho sebelum dapat uang balik. nah ini harus diluruskan. kita berusaha meminta kepada Allah rizky dan menyerahkan hasilnya kepada Allah jadi begitu kita tidak dapat ya memang bukan rizky kita bukannya terus menunggu kapan uang penggantinya datang
Assalamu’alaikum,
Menarik tulisannya pak Agung. Saya pikir, klo seseorang sedekah ikhlas, mestinya sih kehidupannya akan jadi lebih baik/mudah karena Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik. Lebih baik tidak harus sama dengan lebih kaya.
Rasulullah, Abu Bakar, dan sahabat lainnya bukan miskin karena tdk mendapat rizki yang cukup. Mereka hidup sederhana sekali karena mereka memilih utk hidup begitu. Mungkin dlm penglihatan kita mereka susah, sehari makan, besok puasa. Baju ditambal sulam, dll. Tapi saya yakin tdk satupun di antara mereka yg hidup susah krn kehidupan dunia bukan ukuran bagi keimanan mereka.
@khidir insyaallah orang yang sedekah dengan ikhlas minimal mendapatkan dua keutamaan yaitu mendapat pahala yang besar (10 kali hingga 700 kali lipat) disisi Allah dan mendapatkan keberkahan pada harta yang dimilikinya (bukan pasti hartanya bertambah banyak)
ah, emang susah sih kalo di Indonesia. mau dermawan malah dimanfaatin, kalau pelit nanti dibenci. plus, di satu sisi, menyumbang demi mendapat balasan harta akan membuat orang kurang ikhlas, seandainya nggak ada iming2x balasan harta maka ngak mau nyumbang.
dan kepercayaan itu akan membuat orang jadi pemimpi, daripada bekerja keras, mendingan nyumbang harta sedikit nanti kan dibales lebih besar dan seterusnya tanpa perlu kerja keras. kalau balasan harta ngak kunjung datang, maka orang yg menyumbang jadi frustasi…itulah efek kalau menyumbang dng harapan ingin balasan harta.
…tapi di sisi lain, kalau nyumbangnya ikhlas, maka orang yg dapat bantuan jadi malas kerja keras, daripada kerja mendingan morotin orang dermawan aja. kalau menolak ngasih sumbangan ancam saja dng neraka pasti takut deh, begitu pikir mereka. kalau orang miskin yg suka kerja keras nanti jadi ikut-ikutan males gara2x liat rekan2xnya yg miskin bisa dapat harta dengan mudah hanya dengan cara morotin orang dermawan.
ironis memang, orang dermawan jadi pelit, orang rajin jadi males, semua jadi dilema karena semua pilihan akan berdampak buruk….niat baik untuk beramal malah menjadi bumerang yg merugikan diri dan orang lain!
ah… rasanya pingin suicide deh! i am already tired of this all!
@Rinoa using her friend’s PC
itulah fenomena yang terjadi, sedekah sebagai amal yang baik juga dianggap “mesin uang” yang mudah. kasih satu dapat sepuluh. Dan saya harap saudara tidak pesimistis dan selalu optimis masih banyak orang-orang yang mau berpikir logis menyikapi permasalahan agama dan bukan hanya “apa kata ustadz saja lah”.
Bahkan dibanyak tempat sudah mulai muncul “Yayasan-Yayasan” yang menerima sedekah walapun status hukum nggak jelas juga itu mau dikirim kemana. Bahkan ada bisnis “sedekah” diinternet yang notabene hanya sebuah money game dan banyak sekali avriasi sedekah di Indonesia. Mungkin karena bangsa Indonesia kebanyakan manusia kreatif kali ya sampai sedekah aja bisa banyak versi.
mungkin pesan saya seringlah bersedekah dan mengharap pahala dan juga dilancarkan rejekinya serta serahkan urusannya pada Allah entah itu nanti dapat rejeki atau tidak. Jangan pakai hitungan matematika kasih satu dapat sepuluh
Assalamu’alaikum rekan-rekan sekalian,
Saya hanya ingin sekedar sharing, Allah Maha Tahu dan Maha Pengampun atas segala keinginan dan keserakahan saya akan harta duniawi dan pasti akan memberi yang terbaik bagi kami sekeluarga… itu yang saya yakini.
Setiap kali saya bersedekah, selalu saya niatkan untuk mohon agar bahagia dunia akhirat, segera diberi rumah usaha, tidak ngontrak lagi, diridhoi bisnisnya, diberi keselamatan dari segala bencana alam dan bencana manusia, diberi harta yang berkah melimpah ruah agar bisa semakin banyak membantu kaum dhuafa dan anak-anak yatim yang semakin banyak mondok di pesantren.
Puncak sedekah saya terjadi di tahun 2007, karena bener2 sudah kepepet , rumah kontrakan akan habis bulan juni 2008 dan tidak boleh diperpanjang lagi…. bagaimana nasib karyawan2 saya ya Allah….
Pertengahan bulan ramadhan 2007 (tanggal 15 November) saya memulai “memaksa” diri untuk memperbanyak ibadah sholat sunnah dan memperbanyak rokaatnya. Dimulai dari Sholat Tahajud 12 rokaat tiap jam 3 pagi (kadang cuma bisa 2 rokaat aja karena bangunnya terlambat, itupun tidak sempat witir), dilanjutkan sholat dhuha 8 rokaat jam 10 pagi dan menambah sholat rawatib qobliah+ba’diah, juga berdzikir asma Allah ratusan kali.
Saya berniat melakukan hal ini selama 40 hari nonstop, saya tidak tahu apakah niat saya ini tepat atau tidak… semua saya serahkan kepada Kebijakan Allah.
Tentang harta, di bulan ramadhan 2007 saya memutuskan untuk menghapus semua hutang teman-teman kepada saya… (kecuali hutang untuk keperluan bisnis)
Kemudian zakat, infaq, sedekah saya salurkan seluruhnya tanpa sisa.
Saya juga mengikuti pelatihan sholat Tahajud di sebuah Hotel… agar bisa meningkatkan kualitas Tahajud saya.
Tentang orang tua, saya sudah mendaftarkan ibu saya untuk naik Haji di tahun 2007
Subhanallah, 12 Desember 2007 Allah mengabulkannya, saya bisa membeli rumah dengan harga murah (jauh di bawah harga pasaran), dan hanya berjarak 5 rumah saja dari kontrakan saya. Proses transaksi hanya terjadi 15 menit… seperti beli pisang goreng deh… Subhanallah
Ibu saya pun bisa berangkat haji dengan tenang, dan tidak jadi mengadu di tanah suci… berganti menjadi ucapan syukur yang tiada berhingga atas limpahan nikmat dan kemudahan yang diberikan kepada kami sekeluarga.
Saran saya, kalau mau berdialog dengan Allah janganlah membatasi diri, jangan setengah-setengah, curhat saja apa adanya kepada-Nya, lakukan semua semaksimal mungkin, biarkan Allah yang menilai keikhlasan hati kita. Saya yakin setiap orang pasti punya standar maksimal bagi dirinya sendiri.
Saya tinggal di Semarang, kalo ingin mengunjungi rumah “ajaib” bukti KeMahamurahan Allah, silakan email saya di ip20@telkom.net, akan saya beri alamatnya.
Semoga share saya ini bisa bermanfaat
@Rinoa
Jangan berfikir terlalu ribet dan terlalu jauh. Kalau anda berniat untuk sedekah maka anda harus berikhtiar mencari dan memilih orang-orang yang pantas menerima sedekah anda. Datangi sendiri rumahnya / pantinya / tetangga lingkungan RW anda yang kurang beruntung karena dulu dia tidak diberi kesempatan untuk mengenyam bangku sekolah, sehingga sekarang hanya bisa bekerja sebagai tukang sampah / parkir / penyapu jalan.
Kita juga harus maklum kalau banyak diantara orang miskin yang akhirnya menggantungkan diri pada sedekah kita, itu hak mereka, dan pilihan hidup mereka, karena barangkali mereka juga already tired of their own life, but I’m not.
Tidak usah terlalu jauh memberi sumbangan kepada yayasan yang berasal dari kecamatan lain / kota lain. sedangkan di kecamatan anda sendiri masih banyak kepala keluarga yang kesulitan untuk memberi makan anak-anaknya…
Do it now… and don’t blame the situation…
@wiz
saya tidak menyalahkan anda kalau bersedekah juga berdoa agar dilancarkan rizki dan lain-lain. Ada dasar shahih yang saya ketahui mengenai ini. Cuma ingat bahwa hal pertama yang didahulukan adalah karena mencari ridho Allah sedangkan masalah mendapat dunia kita serahkan pada Allah. Alhamdulillah sayapun sudah banyak mendapatkan “keajaiban” dari Allah dikala saya sedang kepepet. Kalau saya bersedekahpun saya sering minta didoakan orang yang disedekahi agar dilancarkan rizki. Tapi tidak kemudian saya bawa sampai mimpi2 kapan sedekahnya akan kembali.
Ingat sedekah yang dibalas itu ada dua kemungkinan :
1. Di lulu (dalam bahasa indonesia diberikan kemudahan/nikmat yang banyak setelah itu dijatuhkan dengan sangat) bahkan Allah berfirman tidak akan dikurangi sedikitpun bagian dunianya hanya diakhirat termasuk orang yang merugi (masuk neraka)
2. Memang diberi kemudahan karena sedekahnya dan sudah pasti syarat pertama adalah ketika sedekah harus ikhlas jika tak ada imbal balik pun ikhlas.
pada saat sedekah anda masuk yang mana ?
“Bagaimana sikap kalian apabila datang sebuah fitnah yang membuat orang-orang dewasa menjadi pikun, anak-anak menjadi tua dibuatnya, dan manusia menganggapnya sunnah, apabila ditinggalkan maka dikatakanlah, “Sunnah telah ditinggalkan.” Mereka bertanya, “Kapankah itu terjadi?” Beliau menjawab, “Apabila telah wafat para ulama kalian dan meninggal para pembaca kalian, sedikitnya orang-orang faqih kalian, banyaknya para pemimpin kalian, sedikitnya orang-orang yang amanah, dunia dikejar dengan amalan akhirat, ilmu selain agama dipelajari secara mendalam” [HR. Darimi 1/64, al-Hakim 4/514 dengan sanad hasan shohih.]
bukankah Rasulullah mengatakan dunia dikejar dengan amalan akhirat adalah hal yang buruk ?
Kalau menurut saya sedekah itu memang baik, dan Allah pasti akan mengganti berlipat-lipat entah itu balasan didunia atau diakhirat, tapi jangan kemudian kita bersedekah hanya untuk mendapatkan imbalan harta dari Allah. Niat seperti ini yang harus kita luruskan. Kita bersedekah tidak boleh mengharap imbalan apapun kecuali ridho Allah. Allah lebih tahu ko bagaimana mengatur rezeki kita. Kapan saat yang tepat untuk Allah menurunkan rezekinya buat kita. Jadi jangan kita sampai dibikin pusing nunggu kapan Allah mengganti harta yang kita sedekahkan.
Urusan sedekah kita diganti dengan harta atau tidak biarlah Allah yang ngurus, pokoknya kita sedekah aja dengan niat ibadah, urusan harta yang kita sedekahkan diganti atau tidak sama Allah LUPAKAN SAJA!!!
wah bagus nih artikelnya bermanfaat, maaf numpang komentar boleh ya :), sedekah itu bagus apalagi dengan keikhlasan namun jika ada yang mengajarkan untuk kaya dengan memperbanyak sedekah, apa itu salah???
kita g akan bisa bersedekah dengan ikhlas bahkan g tau ikhlas itu gimana klo g pernah berlatih, mungkin mas yang punya blog udah ngerti n tau ikhlas itu gimana terutama niat sedekahnya juga dah bagus insyaAllah ya.
apakah islam pernah mengajarkan kita hidup miskin didunia?
apakah kita sendiri sudah terbiasa bersedekah?
atau kita termasuk orang yang pelit?
salahkah jika saya berdo’a, melakukan amalan wajib & sunnah kemudian bersedekah untuk mengharapkan kekayaan dunia?
atau meminta ke paranormal?
maaf mas masih pingin nambah biar komentnya rame hehe..
kita mesti tau dan lihat ternyata banyak saudara kita yg mencari dan meminta kekayaan dengan jalan yang jelas salah, datang ke dukun, paranormal, dll. lalu kira-kira apa yang mesti kita perbuat jika melihat teman/saudara kita spt itu.. lalu kemudian ada saudara kita yg lain datang untuk mengajarkan tentang sedekah bisa melipatgandakan harta kita, klo itu salah juga, lalu apa yg harus kita lakukan? apa solusinya hanya berdo’a? sementara kebutuhan semakin hari semakin meningkat termasuk hutang, dan wajib pajak
jika ada yang mengajarkan untuk kaya dengan memperbanyak sedekah, apa itu salah ?
ini bisa berbahaya sekali karena akan banyak umat berlomba-lomba sedekah hanya untuk kaya saja akan terkena ayat maupun hadits yang membahas mengenai mereka yang beramal akhirat untuk dunia. Sedekah adalah suatu ajaran yang mulia disisi Allah bukan ajaran untuk mendapatkan harta berlimpah.
kita g akan bisa bersedekah dengan ikhlas bahkan g tau ikhlas itu gimana klo g pernah berlatih, mungkin mas yang punya blog udah ngerti n tau ikhlas itu gimana terutama niat sedekahnya juga dah bagus insyaAllah ya.
gampang, coba saja anda masukkan 100 ripuah ke kotak amal. merasa berat hatikah ? kalau tidak coba masukkan 200 rupiah , merasa berat hatikah ? dan seterusnya. buat latihan plus shadaqah jarizah khan ?. Nggak usah memaksa memberikan 100 ribu kalau memang hati masih berat plus jangan berpikir nanti balik uang 10 kali lipat karena sedekah ikhlas dapat pahalanya pasti dapat pahala dunianya belum pasti tergantung kehendak Allah.
apakah islam pernah mengajarkan kita hidup miskin didunia?
tidak, justru menurut islam yang kaya itu lebih baik daripada yang miskin sebagaimana pernah ada hadits beberapa shahabat yang miskin mengeluh karena mereka tidak bisa bersedekah sebagaimana yang kaya kemudian Rasulullah menjawab bahwa itu kelebihan mereka (kaya).Gimana mau haji kalau kita miskin ? gimana mau qurban kalau kita miskin ?
apakah kita sendiri sudah terbiasa bersedekah?
kalau saya sendiri tidak terlalu sering, lebih banyak bersedah kalau ada yang membutuhkan
salahkah jika saya berdo’a, melakukan amalan wajib & sunnah kemudian bersedekah untuk mengharapkan kekayaan dunia?
kalau anda sholat kemudian setelahnya berdoa meminta kekayaan maka boleh2 saja. Tapi sholatnya ikhlas bukan karena minta kekayaan tadi. Minta kekayaannya di doa’nya dan jangan kemudian dengan “Yakin” nya Allah akan pasti member kekayaan. Allah maha bijaksana atas keputusannya memberikan kekayaan atau tidak.
Untuk sedekah memang ada perintah sedekah untuk “meberi berkah” pada hartanya. Bisa jadi harta itu bertambah bisa jadi berkurang tapi berkahnya yang bertambah sebagaimana ungkapan Imam An Nawawi diatas tentang adanya berkah yang “abstrak”.
atau meminta ke paranormal?
meminta ke paranormal hukumnya adalah syirik kepada Allah dan hendaknya orang yang melakukan bertaubat didunia
maaf mas masih pingin nambah biar komentnya rame hehe..
kita mesti tau dan lihat ternyata banyak saudara kita yg mencari dan meminta kekayaan dengan jalan yang jelas salah, datang ke dukun, paranormal, dll.lalu kira-kira apa yang mesti kita perbuat jika melihat teman/saudara kita spt itu.
jika saudara mampu menjelaskan maka jelaskan dengan cara yang baik entah itu dengan bicara langsung atau memberikan artikel dari ulama yang membahas masalah ini. Jika tidak mampu maka doakanlah akan orang itu diberi petunjuk
. lalu kemudian ada saudara kita yg lain datang untuk mengajarkan tentang sedekah bisa melipatgandakan harta kita, klo itu salah juga, lalu apa yg harus kita lakukan?
menjelaskan sebisa mungkin dengan cara yang baik
apa solusinya hanya berdo’a? sementara kebutuhan semakin hari semakin meningkat termasuk hutang, dan wajib pajak
doa itu adalah bentuk permintaan kepada Allah yang tentunya disertai ikhtiar (berusaha) semampu kita. Karena dulupun saya pernah terkena masalah lumayan serius gara2 hutang setidaknya saya bisa memahami posisi pada level itu bahkan dianggap sinis sampai dianggap durhaka pada orang tua (tentu saja bukan orang tua saya yang berpikir demikian tapi orang lain yang terlibat dalam masalah ini karena kebetulan yang meminjam uang tersebut orang tau juga ikut). Tapi Alhamdulillah 4 bulan kemudian posisi berbalik 180 derajat, bukan cuma bisa membayar hutang bahkan alhamdulilah bisa membantu ekonomi orang tua. Tapi ya itu berusaha, uang tidak turun dari langit hanya karena kita berdoa. Tapi uang bisa datang dari asal yang tidak kita sangka2
Anda benar dengan opini anda,ust.yusuf juga benar dengan opini yang telah disampaikan.
Sedekah adalah salah satu bentuk ikhtiar untuk mendapatkan harta. Rasulullah yang mengajarkan.
Kenapa harus menyalahkan orang yang bersedekah untuk mendapatkan kelimpahan?? Salahkan saja orang yang mencuri,merampok, korupsi,menipu dll.
Sedekah adalah salah satu bentuk ikhtiar untuk mendapatkan harta. Rasulullah yang mengajarkan.
saya tidak mengingkari bahwa sedekah adalah salah satu bentuk ikhtiar untuk mendapatkan keberkahan harta atau mungkin mendapatkan harta. Yang saya ingkari adalah orang-orang yang memastikan kalau sedekah sebesar A maka akan dibalas dengan 10 kalinya. itu yang saya ingkari karena tidak ada kepastian mengenai itu. Bahkan pada orang yang awalnya “kurang ikhlas” sekalipun sebagaimana saya berikan contoh diatas
Leave your response!
Recent Posts
Categories
Blogroll
Tags
2 kolom blogger plugins blogger template blogger theme blogspot template blogspot theme code igniter css facebook haram fatwa ulama free stuff free tutorial golput haram html tutorial keluhan pelanggan maksiat miskin motivasi mvc Opini pengumuman php framework Prita Mulyasari programming rokok haram RS OMNI stop dreaming start action two layout web design wisata wordpress plugin wordpress template wordpress themeStatistik Blog
Most Commented