Home » Opini

Formalin dalam Makanan, Refleksi Watak (Sebagian) Pengusaha Kita

31 July 2009 No Comment

Formalin untuk pengawetan makanan, sebuah kenyataan yang miris yang menjadi topik hangat di televisi beberapa waktu lalu. Terkeposenya kasus ini telah banyak membuat penjualan makanan was-was akan turunnya omset penjualannya baik itu pengusaha yang tidak memakai formalin apalagi yang jelas-jelas memakai. Dan celakanya kasus yang sudah terjadi tidak memuat (sebagian) pengusaha kita sadar kesalahannya dan mencari alternatif yang aman untuk pengawetan makanan.

Pabrik Tahu X di daerah X, Jakarta Timur digerebek jajaran Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya. Pabrik itu diduga menggunakan formalin untuk produksi tahunya.(diambil dari detik nama disensor)

Alasan klasik para pengusaha tersebut adalah tidak ada alternatif lain selain formalin yang bisa membuat makanan bisa tahan dalam waktu lama sehingga kalau formalin tidak digunakan mereka bakal merugi. Sebuah alasan klasik yang kalau kita mau berfikir sehat sungguh keterlaluan. Kalau si pengusaha tersebut mau melihat berita di televisi (kalau gaptek nggak ngerti cara buka internet) dan mau berusaha mencari alternatif maka solusi pengawet makanan pengganti formalin saya rasa bukan masalah besar.

Ketika hangat-hangatnya kasus ini, pihak pemerintahpun (kalau nggak salah BPPT) juga mengusahakan mencari alternatif pengganti formalin ini yang salah satu contohnya adalah produk bernama CHITOSAN (bukan promosi lho) bahkan kunyit pun bisa digunakan untuk menggantikan formalin (sebagai pewarna dan pengawit seperti pada tahu takwa)

apa itu formalin ?
Formalin merupakan bahan tambahan pangan (BTP) yang dilarang penggunaannya dalam makanan menurut peraturan Menteri Kesehatan (Menkes) Nomor 1168/Menkes/PER/X/1999 (Nuryasin, 2006).

Formalin adalah nama dagang larutan formaldehid dalam air dengan kadar 30-40 persen. Di pasaran, formalin dapat diperoleh dalam bentuk sudah diencerkan, yaitu dengan kadar formaldehidnya 40, 30, 20 dan 10 persen serta dalam bentuk tablet yang beratnya masing-masing sekitar 5 gram (Kompas, 2005). Formalin sudah sangat umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Di industri makanan, misalnya, formalin dipakai untuk membuat makanan lebih awet. Misalnya saja untuk pengawetan pada tahu, mi, ataupun pada bakso (Kompas, 2005).

Meningkatnya pemakaian formalin dipicu untuk memenuhi selera pasar, yaitu agar makanan teksturnya menjadi tidak mudah hancur dan tidak berbau, sehingga lebih disukai konsumen. Produsen tahu yang tidak memakai formalin biasanya sulit menembus super market yang mensyaratkan tahu harus tahan 4 hari. Selain itu penurunan daya beli masyarakat mendorong produsen menggunakan pengawet yang lebih banyak namun tetap murah (Prasetya, 2005).

Bahaya Formalin

Formalin jika termakan dalam jangka pendek tidak mengalami keracunan tetapi jika tertimbun diatas ambang batas dapat menggangu kesehatan. Dimana ambang batas yang aman adalah 1 miligram perliter (Kompas, 2005). Sedangkan menurut International Programme on Chemical Safety menetapkan bahwa batas toleransi formalin yang dapat diterima dalam tubuh maksimum 0,1 mg per liter (Harmoni, 2006).

Menurut Winarno dan Rahayu (1994) dalam Yakin (2001), menjelaskan bahwa konsumsi formalin pada dosis sangat tinggi dapat mengakibatkan konvulsi (kejang–kejang), haematuri (kencing darah) dan haematomesis (muntah darah) yang berakhir dengan kematian. Injeksi formalin dengan dosis 100 gram dapat mengakibatkan kematian dalam jangka waktu 3 jam.

Formalin dalam tubuh yang tinggi akan bereaksi hampir semua zat didalam sel dan menekan fungsi sel yang menyebabkan kematian bagi sel sehingga dapat mengakibatkan keracunan. Formalin dapat menyebabkan kerusakan sel secara langsung, melalui peroksida membran sel dan meningkatnya permeabilitas melalui membran yang rusak. Masuknya formalin disebabkan oleh kenaikan permeabilitas dinding sel. Suatu kejadian didalam sel, formalin akan memecah membran sel atau mengkoagulasikan sitoplasma dalam sel. Kerusakan membran sel dapat terjadi karena reaksi antara bahan pengawet dengan sisi aktif atau larutnya senyawa lipida. Reaksi yang terjadi dapat mengganggu atau menghalangi jalannya nutrien masuk kedalam sel, mengganggu keluarnya zat–zat penyusun sel dan metabolit dari dalam sel (Megawati, 2001).

Menurut Tranggono (1990) dalam Yakin (2001), menyatakan bahwa dinding sel merupakan polimer komplek, oleh karena itu formalin dapat tercampur dengan penyusun dinding sel, sehingga akan mempengaruhi dinding sel dengan jalan mempengaruhi sintesa komponen sederhana, penghambatan polimerisasi komponen atau penyusun dinding sel, apabila hal ini berkembang lebih lanjut maka akibatnya kebutuhan sel tidak dapat terpenuhi dengan baik.

so, bagi pengusaha hendaknya selalu mencari informasi alternatif terhadap penggunaan yang berbahaya dalam makanan daripada membuat alasan yang tidak logis.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <pre lang="" line="" escaped="">

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.